Bagaimana Kafein Mempengaruhi Kerja Otak dan Saraf?

Saat kita mengonsumsi minuman dan makanan mengandung kafein, perut dan usus kecil segera menyerap kafein. Biasanya efek maksimum kafein terjadi antara 30 hingga 60 menit dalam konsumsi, namun waktu ini dapat sangat bervariasi antar individu. Kemudian, kafein didistribusikan secara efisien ke seluruh tubuh, dan melintasi sawar darah-otak.

Proses yang terjadi dalam otak, kafein memblokir reseptor adenosin. Adenosin sendiri adalah bahan kimia yang meningkatkan tidur yang diproduksi di otak selama jam-jam bangun. Melansir dari laman sleepfoundation.org, biasanya, adenosin menumpuk di otak menyebabkan kantuk. Ketika kafein menghalangi proses ini, kita tetap waspada dan tak mengantuk.

Kafein sendiri adalah zat psikoaktif alami yang ditambahkan pada makanan dan minuman. Kandungan ini banyak ditemukan pada tanaman, termasuk biji kopi, daun teh, buah kakao, dan kacang kola. Kafein juga diproduksi secara sintetis dan digunakan dalam obat-obatan dan minuman energi karena efeknya yang memberi energi dan meningkatkan kewaspadaan.

Selain bisa menahan rasa kantuk, sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa kafein mengganggu ritme sirkadian melatonin, menunda permulaan tidur jika dikonsumsi mendekati waktu tidur. Adapun ritme sirkadian adalah pola fisiologis, seperti siklus tidur-bangun, yang beroperasi pada jam 24 jam. Kondisi ini ditahan oleh siklus eksternal siang dan malam, dan oleh proses seluler internal.

Terakhir, kafein dapat menyebabkan ledakan energi karena membangkitkan sistem saraf pusat. Tak heran, kebanyakan orang minum kopi di pagi hari untuk membantu mereka tetap segar. Pun kafein dapat meningkatkan fungsi kognitif pada orang yang sangat lelah, kafein tidak dapat secara permanen mencegah tidur atau memperbaiki efek kurang tidur dalam jangka panjang.

RAUDATUL ADAWIYAH NASUTION

Leave a Reply

Your email address will not be published.