Amerika dan Jepang Sepakat Cari Cara Hadapi Senjata Hipersonik Cina

Amerika Serikat dan Jepang mengumumkan akan bekerja sama dalam riset dan pengembangan strategi pertahanan menghadapi sistem senjata hipersonik. Berdasarkan kesepakatan yang diumumkan 6 Januari 2022, kerja sama termasuk, “kecerdasan buatan, machine learning, energi konsentrasi tinggi, dan komputer kuantum,” seperti halnya juga, “teknologi kontrahipersonik.” Ironisnya, sehari setelah pengumuman itu, Korea Utara menguji rudal hipersonik pengembangan terbaru mereka dengan hulu ledak yang bisa bermanuver.

Senjata hipersonik adalah sistem peluru kendali yang melesat dengan kecepatan lebih dari Mach 5 atau lima kali kecepatan suara. Berbeda dari rudal-rudal balistik yang mampu terbang pada kecepatan hipersonik, senjata jenis baru ini melesat di lintasan yang terdepresi, biasanya tetap berada di ruang atmosfer. Ini memungkinkannya melewati pertahanan yang ada karena terlalu tinggi untuk bisa dicegat sistem rudal permukaan-ke-udara dan terlalu rendah untuk bisa dilibas pertahanan rudal balistik.

Kesepakatan yang dijalin Amerika dan Jepang untuk riset bersama strategi kontra-senjata hipersonik itu tidaklah mengejutkan karena keduanya telah bersekutu sejak akhir Perang Dunia II. Amerika dan Jepang bahkan memiliki sebuah perjanjian keamanan formal, dengan pasukan Amerika melindungi wilayah Jepang dan Washington melebarkan payung keamanan nuklir yang mencakup pula Tokyo.

Pernyataan bersama mereka merujuk kepada ‘ekspansi militer yang cepat dan samar yang mengancam keseimbangan strategis regional’ yang jelas menunjuk Cina. Amerika dan Jepang juga meningkatkan kerja samanya kontra-Cina dalam konteks yang berbeda: pada akhir Desember, kedua negara setuju untuk aksi militer bersama jika terjadi invasi Cina ke Taiwan.

Cina sudah memiliki setidaknya satu sistem senjata hipersonik jarak menengah, DF-17. Dari daratan Cina, DF-17 mampu menyasar hampir semua titik di Jepang, termasuk lokasi pangkalan tentara Amerika di negara itu. Cina juga dilaporkan mengejutkan intelijen Amerika pada akhir 2021 lalu dengan uji sistem senjata orbital fraksional yang mampu melepaskan sebuah wahana untuk masuk kembali ke Bumi (re-entry) dan terbang dengan kecepatan hipersonik.

Amerika dan Jepang telah pula mengekspresikan alarm pada pengembangan cepat senjata nuklir, rudal, dan roket Korea Utara. Sehari sebelum pengumuman bersama keduanya itu, Korea Utara sudah lebih dulu mengumumkan tes Hwasong-8, sebuah rudal balistik jarak pendek yang dipasangi wahana re-entry di hulu ledaknya yang bisa bermanuver. Hulu ledak itu dilaporkan hipersonik. Belum jelas apakah dia hipersonik karena merupakan rudal balistik atau karena–seperti senjata hipersonik Avangard milik Rusia–melesat menempuh sebuah lintasan yang benar-benar berbeda.

Berbeda dari kebanyakan rudal balistik, yang meluncurkan hulu ledaknya pada lintasan lurus tak berpenuntun namun akurat, wahana re-entry Hwasong-8 diyakini mampu mengubah arah terbang. Kemampuan manuver itu mengancam kemampuan pertahanan rudal seperti THAAD milik Amerika yang juga dikerahkan di Korea Selatan.

POPULAR MECHANICS, STATE.GOV

Leave a Reply

Your email address will not be published.