180 RW di Kota Bandung Pilah Sampah, Peternak Maggot Kecipratan Hasil

Sebagian warga Kota Bandung yang tersebar di 180 Rukun Warga (RW) telah melakukan pemilahan sampah dan limbah organiknya digunakan untuk pupuk hingga budi daya maggot atau larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF). Adapun limbah anorganiknya yang bisa didaur ulang diserahkan ke pengangkut sampah.

Menurut anggota tim sekretariat Forum Bandung Juara Bebas Sampah, Mochamad Andi Nurfauzi, keterlibatan RW dalam pemilahan sampah meningkat pada kurun 2018-2019. Namun, saat pandemi Covid-19 pada 2020-2021 pertambahannya sedikit, yaitu hanya tujuh RW. “Total jumlah RW di Kota Bandung 1.500-an,” kata Andi, Sabtu, 5 Maret 2022.

Pemilahan sampah itu terkait dengan program kurangi, pisahkan, dan manfaatkan atau disingkat Kang Pisman oleh Pemerintah Kota Bandung sejak 2018.

Menurut Andi, Dinas Lingkungan Hidup sudah mendukung, namun tantangan di lapangan adalah di tingkat kewilayahan. “Kalau partisipasi masyarakat sudah enak, kooperatif, dan setelah edukasi mau memilah sampah,” ujarnya. Sejauh ini pemilahan sampah di masyarakat mengandalkan fasilitator pendamping.

Sampah organik dari lingkungan warga yang dikumpulkan ada yang diolah menjadi kompos atau pupuk cair. Kelebihan sampah organiknya kemudian diangkut ke tempat pembuangan sementara (TPS). Hasil pengumpulan di TPS selanjutnya dikirim ke tempat Pusat Olah Organik kelolaan Dinas Lingkungan Hidup yang tersebar di daerah Babakan Sari, Ciswastra, Tegalega, dan Jelekong.

Dua tempat Pusat Olah Organik, yaitu di Babakan Sari dan Ciwastra, kini telah dilengkapi alat pembuat bubur sampah organik. Sebagian hasilnya diambil peternak maggot secara gratis. “Mereka bisa bawa 5-10 ton per minggu,” kata Andi. Hasil maggot digunakan sebagai pakan ternak ikan atau unggas.

Sejauh ini kawasan bebas sampah (KBS) tersebar di 94 kelurahan dari 30 kecamatan di Kota Bandung. Pada tahun ini, menurut Andi, forum akan memperkuat mekanisme pengolahan sampah organik di TPS yang sudah terpilah untuk diangkut ke Pusat Olah Organik.

Saat sarasehan Komunitas Kawasan Bebas Sampah pekan lalu, seorang petugas pemilahan sampah, Juju Supriatna, mengatakan total sampah organik yang berhasil ditangani dan diolah sebanyak 301,38 ton dari empat RW di Kelurahan Neglasari.

Sementara menurut Katrin, seorang penggiat kawasan bebas sampah di Batununggal Indah, inisiatif mengelola sampah datang dari warga. “Karena kekhawatiran akan kondisi lingkungan yang tidak baik-baik saja,” katanya.

Seorang Ketua RW di Kelurahan Cihaurgeulis, Rudi Apriyanto, menerapkan sanksi bagi warga yang enggan memilah sampah. “Maka sampahnya tidak akan diangkut, karena kami khawatir akan kondisi sampah yang tercampur akan terus menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah,” ujarnya. Saat ini pembuangan sampah Kota Bandung dan daerah sekitarnya tertuju ke TPA Sarimukti, di Kabupaten Bandung Barat.

Wilayah Bandung Raya punya sejarah kelam soal persampahan ketika gunungan sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi, runtuh dan merenggut korban jiwa pada 2005. Tragedi itu kemudian memunculkan julukan baru, yaitu Bandung Lautan Sampah, karena kota menjadi kotor dan bau dari timbunan sampah dimana-mana akibat TPA ditutup.

Leave a Reply

Your email address will not be published.